Selembar kertas
surat terserak diantara empat buah amplop yang masih utuh diatas tempat
tidur. Sebuah boks berukuran 30x30 cm tergeletak diatas lantai. Nadia
hanya memandangi surat-surat tanpa nama dan alamat yang dituju itu
dengan binar penasaran yang menggebu-gebu. Mulutnya sejak tadi
komat-kamit bergumam tak jelas entah apa. Sesekali ia mengenyitkan dahi
dan memejamkan mata hingga kedua alis matanya yang indah terlihat
seperti menyatu karena berusaha berfikir dan menebak-nebak siapa
sebenarnya pemilik surat-surat tersebut.
Surat-surat itu sebenarnya sudah tiga bulan ia temukan didalam sebuah boks berwarna biru saat membersihkan bagian bawah tempat tidur kontrakan yang baru ditempatinya. Selama tiga bulan itu pula ia telah berusaha menahan rasa ingin tahunya yang semakin hari semakin kuat. Pada mulanya batinnya bergejolak untuk membuka boks itu atau tidak. Ia berandai-andai tentang apa isi didalam boks tersebut, “apa mungkin isinya adalah perhiasan atau malah sesuatu yang berbahaya?” gumamnya membatin.
Malam itu akhirnya setelah hilir mudik berjalan kesana-kemari menahan penasaran yang membubung diatas ubun-ubunnya, ia memutuskan membawa boks itu kepada pemilik kontrakan dan menanyainya. Tetapi jawaban dari pemilik kontrakan tersebut memang benar-benar diluar dugaannya, bukannya mendapat jawaban tentang asal muasal boks tersebut malah pemilik kontrakan itu langsung membuka dan memperlihatkan isi dalam boks itu kepadanya.
“Tuh kan, isinya bukan apa-apa..?? cuman kertas-kertas surat biasa yang tak jelas. Udah deh, kamu bawa aja lagi kekamar, kalo memang merasa terganggu kamu bakar saja surat-surat ini gak apa-apa.” Kata lelaki paruh baya itu padanya. Nadia tak menjawab sepatah katapun, ia hanya bengong dan mengumpat dalam hati.
“Dasar edan ya ne Bapak-bapak, dia gak ngerti apa yang namanya privasi?? Gue kan cuman nanya boks ini milik siapa? Eh.. tau-tau seenaknya saja membuka barang milik orang lain tanpa merasa bersalah sedikipun. Udah gitu, pake nyuruh-nyuruh gue lagi yang bakar-bakar suratnya, emang kelewatan bener deh..!!”
Walaupun merasa risih dengan sikap pemilik kontrakan yang membuka boks yang dibawanya itu, sebenarnya ada juga rasa senang yang terbesit dalam hatinya. Karena sejujurnya ia juga sangat ingin mengetahui apa isi dalam boks itu yang membuatnya penasaran selama berbulan-bulan ini. Kini rasa keingintahuannya itu sedikit terobati, tetapi tak sepenuhnya hilang, bagai sebuah paradoks kini lagi-lagi surat itu yang seakan menteror menghantuinya kembali. Pertanyaan demi pertanyaan bertubi-tubi mengisi pikirannya. “Untuk siapa sebenarnya surat-surat itu? Dan kenapa ia tidak dikirim setelah ditulis?”
Setelah memandangi surat-surat tersebut berjam-jam ditempat tidurnya, akhirnya ia beranikan diri membuka sebuah amplop yang masih tertutup rapi meskipun disisi lain batinnya tetap tidak bisa membenarkan begitu saja sikapnya itu. “Mau gimana lagi, toh boksnya juga sudah dibuka, kepalang tanggung jadi gak salah dong kalo sekarang aku buka juga surat- suratnya?!! Lagian tidak ada siapapun yang peduli surat ini untuk siapa..!!” gumamnya dalam hati seakan membela diri dari tudingan perasaannya sendiri.
Surat Pertama;
Kepadamu Perempuan,
Kuberanikan saja menulis surat ini meski aku tidak pernah benar-benar yakin akan mengirimkannya kepadamu atau tidak. Kau tahu, waktu menjelang senja menurutku adalah suatu keharuan, karena tiap kali cahaya jingga berpendar disudut kaki langit, maka semburat terangnya bagai bianglala menyelinap cepat dalam penglihatan.
Ooh...!! senja memang benar-benar telah mengusikku..! tak dapat lagi disangkal, senja juga mengantarkanku pada bayang-bayang. Bayang-bayang yang didalamnya bersemi mimpi dan angan-angan. Mimpi yang indah-indah dan angan yang tinggi memuncak. Tapi apalah artinya sebuah mimpi jika tak bisa menjadi nyata? Lebih buruk lagi, bila mimpi dan angan-angan indah itu semuanya adalah tentang kamu, dan semua itu sama sekali tak pernah keluar dari lidah ini hingga sampai menjadi jelas padamu.
Kata orang, suatu kali kata-kata tak cukup bermakna. Bahkan diam kadang-kadang lebih jelas dari pada bicara. Mungkin itu juga yang membuat Shakespeare pernah menulis kalimat, “...her eyes talk to me, I’ll answered...” didalam sebuah babak dalam lakon Romeo dan Juliet. Tapi menurutku Shakespeare tak sepenuhnya benar. Sudah berkali-kali tiap kita bertemu, bahkan kadang tak pernah lepas tatapanku padamu, tapi tak juga sekalipun engkau menjawab “pandangan” ku itu dan engkau hanya membalasnya dengan senyum yang meluluhkan dan segalanya bagiku berubah menjadi kabur.
Begitulah keindahan cinta dalam diam yang menghanyutkan ku, tapi hingga kini aku tak punya pilihan. Mungkin aku akan jadi orang yang mengulang-ulang kembali kata-kata “Biarlah waktu yang akan menjawab”, dan seiring dengan akan datangnya waktu yang tepat, semoga keberuntungan masih tetap berpihak padaku..
Surat ke empat;
Februari 2012
Perempuan,
Aku sangat berharap suratku yang terkahir ini bisa kuberikan padamu. Begitu juga dengan surat-surat yang pernah kutulis sebelumnya yang tak pernah kukirimkan. Kau tahu, betapa susahnya bagiku selama enam tahun ini untuk tetap mencintaimu dalam ketulusan, untuk tetap menyimpan cinta dalam diamku. Untuk tidak mengirimkan surat-surat ini hingga datang waktu yang tepat seperti yang kujanjikan dulu. Dan melewati hari-hari yang kelabu, serta cinta dan cemburu yang menyiksa. Kadangkala ada juga jatuh dalam titik paling lemah dalam diriku, dan rasanya aku ingin menyerah saja dengan semua ini. Tapi perempuanku, Tuhan selalu saja mengirimkan keajaiban atas anugrah terindah-Nya untuk mencintaimu. Untuk anugrah yang sebesar itu ia memberikan kekuatan yang luar biasa untuk tetap terus mencintaimu hingga saat ini.
Dalam kehidupan yang singkat ini, aku sama sekali tidak pernah menyesal mencintaimu salamanya dalam diam. Sejak pertama kali melihatmu, hatiku telah berikrar untuk mencintaimu sepenuhnya dan menyerahkan semua perasaanku padamu dan sebagai buktinya adalah kesungguhanku untuk selamnya tetap setia. Sejak itu pula aku merasakan hidup yang lebih berarti, hidup dalam cita dan impian indah mencintaimu. Lalu jika masanya tiba, dan Tuhan membuang satu-persatu kemustahilan yang menghalangiku untuk bersamamu maka aku akan datang menemuimu untuk mengikat janji suci yang seumur hidup tak akan pernah kita lupakan. Tapi kenyataannya memang lain, kehendak-Nya berbeda dengan mimpi-mimpiku selama ini. Mungkin selamanya aku hanya akan memilikimu dalam harapan dan juga mimpi, lebih tidak.
Perempuan,
Aku sungguh mencintaimu, teramat sangat cinta. Cinta yang mungkin dalam batas yang tak pernah dirasakan oleh orang-orang yang pernah mencintai sebelumnya. Cinta yang membuat hari-hariku hidup selama enam tahun ini meskipun tak pernah memilikimu. Mungkin itu terdengar bagai sebuah klise, tapi inilah aku lelaki yang mencintai dalam bayang, selamanya. Kini engkau telah menemukan pilihan hidup yang kau pilih dan aku yakin dia adalah orang yang tepat dan lebih baik dariku, setidaknya ia berani mengungkapkan perasaannya padamu sedangkan aku tidak.
Perempuanku,
Bingkisan ini harus aku sampaikan kepdamu sebagai tanda harapan dan mimpi indah yang pernah kubangun. Dulu aku selalu membayangkan memberikannya langsung padamu sambil bersimpuh mengucapkan kata-kata lamaran yang layak untuk dikenang dalam sisa-sisa usia kita, memilikimu dalam suasana suci dan mencintaimu tanpa beban. Enam tahun mencintaimu dalam diam. Tapi sebentar lagi mungkin habis waktuku, namun tak pernah kusesali hari ketika aku melihatmu di Mushalla kala itu dengan senyum terindah yang pernah kulihat seumur hidup...
***
Selamanya kata-kata akan jadi abu,
Dari enam tahun pertemuan kita itu
Dua ribu matahari jatuh ke tanah,
Tiga ratus pekan tenggelam dalam hari yang mati..
Mengurai pedih cinta pada kekasih,
Menghayati arti Sejati dalam kesendirian..
Malam yang datang pelan-pelan,
Kemudiannya adalah pesona dalam kesunyian yang pucat..
Hari itu tetap kita kenang sebagai kehangatan suka-cita,
Namun begitulah kita harus menyerah pada hukum-hukum hari..
Kehidupan masa datang yang menjadi asing,
Mengantarkan kita pada kotak-kotak waktu..
Menjadikan sekat masa antara dulu, kini, dan esok..
Ooh.. andai kita punya mantra...
Mantra penangkal kutuk waktu yang hitam kelam,
Mantra penghapus kebencian pada yang sudah-sudah..
Mantra yang mendamaikan perasaan kita
Penawar dari segala penawar,
Hingga kita tak lagi berdoa bila berdiri dalam sunyi
Dan tak ciut melihat masa yang purba..
Selamanya akan tentram menunggu seluruh usia,
Menghitung ketidak-pastian dan bahagia..
Hanya mantra itu yang akan jadi penawar,
IKHLAS...
***
Nadia menghapus air matanya yang sejak tadi sudah mulai mengalir deras. Satu persatu surat itu dimasukkannya kembali kedalam boks yang masih tergeletak diatas lantai. Sekilas ia melihat sebuah cincin bermata satu dengan bagian tengahnya dihias ukiran berulir yang sangat indah dalam wadah berwarna merah dibagian bawah pinggir boks. Alunan biola Itzhak Perlman feat John Williams terdengar mendayu-dayu memainkan sonata Remembrances membuat hatinya semakin tersayat-sayat menangisi kisah lara lelaki tanpa nama dan perempuan tanpa nama pada malam itu....
***
Surat-surat itu sebenarnya sudah tiga bulan ia temukan didalam sebuah boks berwarna biru saat membersihkan bagian bawah tempat tidur kontrakan yang baru ditempatinya. Selama tiga bulan itu pula ia telah berusaha menahan rasa ingin tahunya yang semakin hari semakin kuat. Pada mulanya batinnya bergejolak untuk membuka boks itu atau tidak. Ia berandai-andai tentang apa isi didalam boks tersebut, “apa mungkin isinya adalah perhiasan atau malah sesuatu yang berbahaya?” gumamnya membatin.
Malam itu akhirnya setelah hilir mudik berjalan kesana-kemari menahan penasaran yang membubung diatas ubun-ubunnya, ia memutuskan membawa boks itu kepada pemilik kontrakan dan menanyainya. Tetapi jawaban dari pemilik kontrakan tersebut memang benar-benar diluar dugaannya, bukannya mendapat jawaban tentang asal muasal boks tersebut malah pemilik kontrakan itu langsung membuka dan memperlihatkan isi dalam boks itu kepadanya.
“Tuh kan, isinya bukan apa-apa..?? cuman kertas-kertas surat biasa yang tak jelas. Udah deh, kamu bawa aja lagi kekamar, kalo memang merasa terganggu kamu bakar saja surat-surat ini gak apa-apa.” Kata lelaki paruh baya itu padanya. Nadia tak menjawab sepatah katapun, ia hanya bengong dan mengumpat dalam hati.
“Dasar edan ya ne Bapak-bapak, dia gak ngerti apa yang namanya privasi?? Gue kan cuman nanya boks ini milik siapa? Eh.. tau-tau seenaknya saja membuka barang milik orang lain tanpa merasa bersalah sedikipun. Udah gitu, pake nyuruh-nyuruh gue lagi yang bakar-bakar suratnya, emang kelewatan bener deh..!!”
Walaupun merasa risih dengan sikap pemilik kontrakan yang membuka boks yang dibawanya itu, sebenarnya ada juga rasa senang yang terbesit dalam hatinya. Karena sejujurnya ia juga sangat ingin mengetahui apa isi dalam boks itu yang membuatnya penasaran selama berbulan-bulan ini. Kini rasa keingintahuannya itu sedikit terobati, tetapi tak sepenuhnya hilang, bagai sebuah paradoks kini lagi-lagi surat itu yang seakan menteror menghantuinya kembali. Pertanyaan demi pertanyaan bertubi-tubi mengisi pikirannya. “Untuk siapa sebenarnya surat-surat itu? Dan kenapa ia tidak dikirim setelah ditulis?”
Setelah memandangi surat-surat tersebut berjam-jam ditempat tidurnya, akhirnya ia beranikan diri membuka sebuah amplop yang masih tertutup rapi meskipun disisi lain batinnya tetap tidak bisa membenarkan begitu saja sikapnya itu. “Mau gimana lagi, toh boksnya juga sudah dibuka, kepalang tanggung jadi gak salah dong kalo sekarang aku buka juga surat- suratnya?!! Lagian tidak ada siapapun yang peduli surat ini untuk siapa..!!” gumamnya dalam hati seakan membela diri dari tudingan perasaannya sendiri.
Surat Pertama;
Juli 2006
Kepadamu Perempuan,
Kuberanikan saja menulis surat ini meski aku tidak pernah benar-benar yakin akan mengirimkannya kepadamu atau tidak. Kau tahu, waktu menjelang senja menurutku adalah suatu keharuan, karena tiap kali cahaya jingga berpendar disudut kaki langit, maka semburat terangnya bagai bianglala menyelinap cepat dalam penglihatan.
Ooh...!! senja memang benar-benar telah mengusikku..! tak dapat lagi disangkal, senja juga mengantarkanku pada bayang-bayang. Bayang-bayang yang didalamnya bersemi mimpi dan angan-angan. Mimpi yang indah-indah dan angan yang tinggi memuncak. Tapi apalah artinya sebuah mimpi jika tak bisa menjadi nyata? Lebih buruk lagi, bila mimpi dan angan-angan indah itu semuanya adalah tentang kamu, dan semua itu sama sekali tak pernah keluar dari lidah ini hingga sampai menjadi jelas padamu.
Kata orang, suatu kali kata-kata tak cukup bermakna. Bahkan diam kadang-kadang lebih jelas dari pada bicara. Mungkin itu juga yang membuat Shakespeare pernah menulis kalimat, “...her eyes talk to me, I’ll answered...” didalam sebuah babak dalam lakon Romeo dan Juliet. Tapi menurutku Shakespeare tak sepenuhnya benar. Sudah berkali-kali tiap kita bertemu, bahkan kadang tak pernah lepas tatapanku padamu, tapi tak juga sekalipun engkau menjawab “pandangan” ku itu dan engkau hanya membalasnya dengan senyum yang meluluhkan dan segalanya bagiku berubah menjadi kabur.
Begitulah keindahan cinta dalam diam yang menghanyutkan ku, tapi hingga kini aku tak punya pilihan. Mungkin aku akan jadi orang yang mengulang-ulang kembali kata-kata “Biarlah waktu yang akan menjawab”, dan seiring dengan akan datangnya waktu yang tepat, semoga keberuntungan masih tetap berpihak padaku..
****
Nadia tertegun
sejenak, “Hmm cinta terpendam ya..? Ternyata selalu saja ada orang-orang
yang kurang percaya diri untuk mengungkapkan perasaannya. Apa susahnya
sih, kalo emang suka tinggal bilang aja terus selesai deh masalahnya..!”
Lirihnya pelan.
Setelah membaca kalimat demi kalimat dari surat itu, perlahan Nadia merasa ada yang lain dari surat tersebut. Berulang-ulang surat itu dibacanya kembali hingga akhirnya ia pun mulai menyadarinya, “Yupz..!! aku yakin surat ini memang ditulis dengan hati yang benar-benar tulus dan rasa cinta yang begitu besar. Tapi bagaimana mungkin seseorang yang tidak bisa memiliki dapat mencintai seseorang dengan begitu tulus dan tanpa pengharapan apapun?”
Kali ini Nadia semakin terobsesi untuk mengetahui kisah cinta lekaki tanpa nama dalam surat tersebut. Tangannya tanpa sadar meraih surat kedua dari dalam boks yang tergelatak diatas lantai. Matanya berbinar dan degup jantungnya semakin tak beraturan, seakan-akan surat yang dipengangnya itu memang dikirimkan untuk dirinya sendiri. Berkali-kali ia menghela nafas panjang kemudian perlahan tangan kiri gadis itu merobek bagian pinggir sebuah amplop berwarna coklat tua, perlahan meluncur keluar selembar kertas berwarna biru dengan motif bordir yang artistik dibagian pinggir-pinggirnya. Tanpa berfikir panjang ia langsung membaca isi surat tersebut dengan khusuk.
Surat Kedua;
Perempuan,
Setiap hari bagiku adalah penantian. Kegelisahan yang selama ini aku khawatirkan akhir nya datang juga menjadi pikiran yang tak bisa ku tolak. Pada mulanya aku memang berusaha menyangkal perasaanku, jatuh cinta, untuk apa?? Karena aku sepenuhnya sangat menyadari siapa diriku, engkau dan aku adalah suatu hal yang sangat kontras. Kamu memiliki segalanya, hidup dalam lingkungan keluarga yang mapan, dan seabrek prestasi yang kamu miliki membuatmu begitu sempurna dan dikagumi banyak orang. Sedangkan aku hanya lelaki kere yang nekat untuk kuliah meskipun harus berjuang mati-matian memenuhi kebutuhan kuliahku, aku sama sekali tidak ingin menyusahkan ibu yang sudah ditinggal mati bapak sejak tujuh tahun lalu. Karena itulah aku tumbuh dan berjuang menjadi lelaki dewasa yang sendiri, oleh sebab itu aku selalu berusaha sebisa mungkin untuk mengubur perasaan itu sedalam-dalamnya didasar hatiku sebelum ia menjadi besar dan menyiksaku.
Perempuan,
Aku tidak pernah ingin mencintaimu seperti ini. Tapi siapakah yang bisa memilih cinta? Siapakah yang bisa memutuskan kapan ia datang dan pada siapa ia harus tumbuh? Tidak ada, tidak seorang pun!! Sebab cinta bukan sejenis makanan atau minuman yang bisa kita pesan sesuai dengan keinginan kita kepada si pembuatnya, cinta adalah anugrah terindah dari-Nya yang tak selalu bisa dijelaskan oleh manusia. Tapi melihat mu pertama kali di Mushalla Kampus sore itu hatiku berikrar begitu saja.
Aku tak sepenuhnya percaya dengan kebetulan, bagiku segala sesuatu telah digariskan. Dan tentu saja perjumpaanku denganmu sore itu juga bukan merupakan suatu kebetulan. Bukan kebetulan Muazzif (Petugas) Mushalla yang biasa menjadi imam tidak datang dan teman-teman memaksaku untuk maju mengimami shalat ashar sore itu, bukan suatu kebetulan pula kamu adalah makmum perempuan satu-satunya yang berimam kepadaku. Ketika shalat selesai dan saat aku menoleh kebelakang dan kamu juga menoleh padaku sambil melemparkan sebuah senyuman yang disertai anggukan tanda hormat dan gilanya saat itu tiba-tiba aku berfikir;
“Kau adalah perempuanku.
Takdir yang harus kupenuhi dan kuperjuangkan!!”
Sejak saat itu untuk pertama kalinya aku merasakan hidup tak sekedar perjuangan yang keras dalam ketidak-pastian yang abadi, tapi juga sebuah keindahan dan pengharapan, sebab kini aku punya cita-cita. Cita-cita itu adalah sebuah kemantapan hati yang telah aku pilih dan aku tetapkan. Dan aku bukanlah seorang lelaki yang dengan mudah menetapkan sebuah pilihan, atau dengan mudah pula mengubah ketetapan sebuah pilihan tersebut. Aku adalah lelaki yang memilih dan sekaligus siap menerima resiko apapun atas pilihan yang telah aku tetapkan.
Bagiku tak ada sedikitpun kata mundur, mundur berarti pecundang dan hancur. Meskipun teriakan-terikan kemustahilan berjejal ditelingaku, aku tak bergeming sedikitpun karena bagiku didunia ini tak ada yang mustahil dan bukankah Tuhan adalah tempat jawaban semua kemustahilan? Maka penantian panjang yang kujalani ini biarlah menjadi bagian sejarah hidup yang harus aku tuliskan, betapapun siksa dan sakitnya bagiku itu semua adalah perjalan lintas-batas sebuah mimpi menuju kenyataan hidup ...
Setelah membaca kalimat demi kalimat dari surat itu, perlahan Nadia merasa ada yang lain dari surat tersebut. Berulang-ulang surat itu dibacanya kembali hingga akhirnya ia pun mulai menyadarinya, “Yupz..!! aku yakin surat ini memang ditulis dengan hati yang benar-benar tulus dan rasa cinta yang begitu besar. Tapi bagaimana mungkin seseorang yang tidak bisa memiliki dapat mencintai seseorang dengan begitu tulus dan tanpa pengharapan apapun?”
Kali ini Nadia semakin terobsesi untuk mengetahui kisah cinta lekaki tanpa nama dalam surat tersebut. Tangannya tanpa sadar meraih surat kedua dari dalam boks yang tergelatak diatas lantai. Matanya berbinar dan degup jantungnya semakin tak beraturan, seakan-akan surat yang dipengangnya itu memang dikirimkan untuk dirinya sendiri. Berkali-kali ia menghela nafas panjang kemudian perlahan tangan kiri gadis itu merobek bagian pinggir sebuah amplop berwarna coklat tua, perlahan meluncur keluar selembar kertas berwarna biru dengan motif bordir yang artistik dibagian pinggir-pinggirnya. Tanpa berfikir panjang ia langsung membaca isi surat tersebut dengan khusuk.
Surat Kedua;
Januari 2007
Perempuan,
Setiap hari bagiku adalah penantian. Kegelisahan yang selama ini aku khawatirkan akhir nya datang juga menjadi pikiran yang tak bisa ku tolak. Pada mulanya aku memang berusaha menyangkal perasaanku, jatuh cinta, untuk apa?? Karena aku sepenuhnya sangat menyadari siapa diriku, engkau dan aku adalah suatu hal yang sangat kontras. Kamu memiliki segalanya, hidup dalam lingkungan keluarga yang mapan, dan seabrek prestasi yang kamu miliki membuatmu begitu sempurna dan dikagumi banyak orang. Sedangkan aku hanya lelaki kere yang nekat untuk kuliah meskipun harus berjuang mati-matian memenuhi kebutuhan kuliahku, aku sama sekali tidak ingin menyusahkan ibu yang sudah ditinggal mati bapak sejak tujuh tahun lalu. Karena itulah aku tumbuh dan berjuang menjadi lelaki dewasa yang sendiri, oleh sebab itu aku selalu berusaha sebisa mungkin untuk mengubur perasaan itu sedalam-dalamnya didasar hatiku sebelum ia menjadi besar dan menyiksaku.
Perempuan,
Aku tidak pernah ingin mencintaimu seperti ini. Tapi siapakah yang bisa memilih cinta? Siapakah yang bisa memutuskan kapan ia datang dan pada siapa ia harus tumbuh? Tidak ada, tidak seorang pun!! Sebab cinta bukan sejenis makanan atau minuman yang bisa kita pesan sesuai dengan keinginan kita kepada si pembuatnya, cinta adalah anugrah terindah dari-Nya yang tak selalu bisa dijelaskan oleh manusia. Tapi melihat mu pertama kali di Mushalla Kampus sore itu hatiku berikrar begitu saja.
Aku tak sepenuhnya percaya dengan kebetulan, bagiku segala sesuatu telah digariskan. Dan tentu saja perjumpaanku denganmu sore itu juga bukan merupakan suatu kebetulan. Bukan kebetulan Muazzif (Petugas) Mushalla yang biasa menjadi imam tidak datang dan teman-teman memaksaku untuk maju mengimami shalat ashar sore itu, bukan suatu kebetulan pula kamu adalah makmum perempuan satu-satunya yang berimam kepadaku. Ketika shalat selesai dan saat aku menoleh kebelakang dan kamu juga menoleh padaku sambil melemparkan sebuah senyuman yang disertai anggukan tanda hormat dan gilanya saat itu tiba-tiba aku berfikir;
“Kau adalah perempuanku.
Takdir yang harus kupenuhi dan kuperjuangkan!!”
Sejak saat itu untuk pertama kalinya aku merasakan hidup tak sekedar perjuangan yang keras dalam ketidak-pastian yang abadi, tapi juga sebuah keindahan dan pengharapan, sebab kini aku punya cita-cita. Cita-cita itu adalah sebuah kemantapan hati yang telah aku pilih dan aku tetapkan. Dan aku bukanlah seorang lelaki yang dengan mudah menetapkan sebuah pilihan, atau dengan mudah pula mengubah ketetapan sebuah pilihan tersebut. Aku adalah lelaki yang memilih dan sekaligus siap menerima resiko apapun atas pilihan yang telah aku tetapkan.
Bagiku tak ada sedikitpun kata mundur, mundur berarti pecundang dan hancur. Meskipun teriakan-terikan kemustahilan berjejal ditelingaku, aku tak bergeming sedikitpun karena bagiku didunia ini tak ada yang mustahil dan bukankah Tuhan adalah tempat jawaban semua kemustahilan? Maka penantian panjang yang kujalani ini biarlah menjadi bagian sejarah hidup yang harus aku tuliskan, betapapun siksa dan sakitnya bagiku itu semua adalah perjalan lintas-batas sebuah mimpi menuju kenyataan hidup ...
***
Kali ini Nadia
benar-benar tertegun membaca surat yang masih ditangannya, setiap
kalimat dalam surat itu seakan-akan punya daya magis yang mampu
menyihirnya. Perlahan ia letakkan surat yang membuat dadanya terasa
sesak itu diatas tempat tidur dan berpikir, “Perempuan yang sungguh
beruntung, mendapatkan cinta yang sangat besar dari seorang lelaki yang
begitu tulus mencintainya, ahh..?! andai perempuan itu adalah aku..?? di
zaman sekarang ini dimana lagi bisa mendapatkan cinta yang tulus
seperti cinta lelaki dalam surat itu..?” Nadia terus melamun dan
berandai-andai, kadang ia berguman lirih dan tak jelas, kemudian
tersenyum-senyum sendiri laiknya orang yang sedang jatuh cinta, tapi
suasana itu tak berlangsung lama ia kembali ingat dengan surat-surat
yang masih tersusun rapi dalam boks yang tergeletak diatas lantai
kemudian segera meraih sebuah amplop lalu membukanya.
Surat ketiga;
Perempuan,
Kita bertemu lagi hari ini, dua tahun berlalu dengan cepatnya tanpa bisa dicegah dan kau tetap satu-satunya perempuan yang membuatku kuat dan terus berdoa kepada-Nya. Dalam iman yang tak seberapa, selama dua tahun itu pula kusandarkan semua jawaban perasaan dalam diamku padamu selama ini. Cita-cita untuk hidup sampai tua denganmu tak pernah pudar sedikitpun, tetapi tiap kali melihatmu dalam kesadaran yang penuh, maka kenyataan selalu mendatangkan siksa dan keperihan hati. Hanya pada saat malamlah engkau benar-benar nyata menjadi milikku walau dalam mimpi yang aku tahu itu semu, dan bagiku semua itu sama sekali tidak mengurangi keindahanmu. Ketika sebuah ketulusan kini tidak depertanyakan orang lagi, dan ketika orang-orang hanya perduli dengan materi dan fisik yang tampak, maka aku datang kepadamu dengan membawa ketulusan itu seutuhnya tak kurang dan tak lebih. Tulus yang sebenarnya tulus, itulah Ikhlas. Maka dalam diam yang sunyi itu kujalin harapan yang tak pernah padam hingga suatu saat nanti selamanya aku ada disisimu.
Perempuanku,
Sudah banyak yang berubah dalam waktu dua tahun ini. Kau tahu, mencintaimu selama itu mendatangkan kesadaran bagiku, kesadaran untuk membagi-bagikan keindahan itu kepada orang lain, sudah banyak tulisanku yang terbit bahkan sebagian ada pula yang sudah dibukukan. Terima kasih telah menjadi kekuatan inspirasiku yang abadi, semoga kau tidak merasa keberatan untuk hal itu. Barangkali akan ada sebagian orang yang tidak percaya dengan kesetiaan ku padamu tapi aku tidak akan menghiraukan mereka, karena dalam setiap tulisanku selalu kutuliskan inisial namamu. Dengan cara itu aku berusaha terus mencintaimu dan menjaga ketulusan hatiku untuk tetap setia. Dalam kehidupanku yang sekarang ini kau memang tak hadir secara kasat mata disisiku, tapi aku tak perlu mata untuk merasakan kehadiranmu dalam jiwaku.
Meskipun aku tak memiliki fotomu, tapi mereka tak akan pernah tahu dan mengerti wajahmu yang menyapaku setiap waktu dengan senyum yang sama saat kita pertamakali bertemu di Mushalla saat itu. Mereka juga tak akan tahu betapa jelasnya sosokmu terlukis dalam hatiku, meskipun puluhan tahun kelak akan berlalu namun lukisan wajahmu tak akan pernah pudar sedikitpun dalam jiwaku.
Surat ketiga;
Maret 2008
Perempuan,
Kita bertemu lagi hari ini, dua tahun berlalu dengan cepatnya tanpa bisa dicegah dan kau tetap satu-satunya perempuan yang membuatku kuat dan terus berdoa kepada-Nya. Dalam iman yang tak seberapa, selama dua tahun itu pula kusandarkan semua jawaban perasaan dalam diamku padamu selama ini. Cita-cita untuk hidup sampai tua denganmu tak pernah pudar sedikitpun, tetapi tiap kali melihatmu dalam kesadaran yang penuh, maka kenyataan selalu mendatangkan siksa dan keperihan hati. Hanya pada saat malamlah engkau benar-benar nyata menjadi milikku walau dalam mimpi yang aku tahu itu semu, dan bagiku semua itu sama sekali tidak mengurangi keindahanmu. Ketika sebuah ketulusan kini tidak depertanyakan orang lagi, dan ketika orang-orang hanya perduli dengan materi dan fisik yang tampak, maka aku datang kepadamu dengan membawa ketulusan itu seutuhnya tak kurang dan tak lebih. Tulus yang sebenarnya tulus, itulah Ikhlas. Maka dalam diam yang sunyi itu kujalin harapan yang tak pernah padam hingga suatu saat nanti selamanya aku ada disisimu.
Perempuanku,
Sudah banyak yang berubah dalam waktu dua tahun ini. Kau tahu, mencintaimu selama itu mendatangkan kesadaran bagiku, kesadaran untuk membagi-bagikan keindahan itu kepada orang lain, sudah banyak tulisanku yang terbit bahkan sebagian ada pula yang sudah dibukukan. Terima kasih telah menjadi kekuatan inspirasiku yang abadi, semoga kau tidak merasa keberatan untuk hal itu. Barangkali akan ada sebagian orang yang tidak percaya dengan kesetiaan ku padamu tapi aku tidak akan menghiraukan mereka, karena dalam setiap tulisanku selalu kutuliskan inisial namamu. Dengan cara itu aku berusaha terus mencintaimu dan menjaga ketulusan hatiku untuk tetap setia. Dalam kehidupanku yang sekarang ini kau memang tak hadir secara kasat mata disisiku, tapi aku tak perlu mata untuk merasakan kehadiranmu dalam jiwaku.
Meskipun aku tak memiliki fotomu, tapi mereka tak akan pernah tahu dan mengerti wajahmu yang menyapaku setiap waktu dengan senyum yang sama saat kita pertamakali bertemu di Mushalla saat itu. Mereka juga tak akan tahu betapa jelasnya sosokmu terlukis dalam hatiku, meskipun puluhan tahun kelak akan berlalu namun lukisan wajahmu tak akan pernah pudar sedikitpun dalam jiwaku.
***
Surat ke empat;
Februari 2012
Perempuan,
Aku sangat berharap suratku yang terkahir ini bisa kuberikan padamu. Begitu juga dengan surat-surat yang pernah kutulis sebelumnya yang tak pernah kukirimkan. Kau tahu, betapa susahnya bagiku selama enam tahun ini untuk tetap mencintaimu dalam ketulusan, untuk tetap menyimpan cinta dalam diamku. Untuk tidak mengirimkan surat-surat ini hingga datang waktu yang tepat seperti yang kujanjikan dulu. Dan melewati hari-hari yang kelabu, serta cinta dan cemburu yang menyiksa. Kadangkala ada juga jatuh dalam titik paling lemah dalam diriku, dan rasanya aku ingin menyerah saja dengan semua ini. Tapi perempuanku, Tuhan selalu saja mengirimkan keajaiban atas anugrah terindah-Nya untuk mencintaimu. Untuk anugrah yang sebesar itu ia memberikan kekuatan yang luar biasa untuk tetap terus mencintaimu hingga saat ini.
Dalam kehidupan yang singkat ini, aku sama sekali tidak pernah menyesal mencintaimu salamanya dalam diam. Sejak pertama kali melihatmu, hatiku telah berikrar untuk mencintaimu sepenuhnya dan menyerahkan semua perasaanku padamu dan sebagai buktinya adalah kesungguhanku untuk selamnya tetap setia. Sejak itu pula aku merasakan hidup yang lebih berarti, hidup dalam cita dan impian indah mencintaimu. Lalu jika masanya tiba, dan Tuhan membuang satu-persatu kemustahilan yang menghalangiku untuk bersamamu maka aku akan datang menemuimu untuk mengikat janji suci yang seumur hidup tak akan pernah kita lupakan. Tapi kenyataannya memang lain, kehendak-Nya berbeda dengan mimpi-mimpiku selama ini. Mungkin selamanya aku hanya akan memilikimu dalam harapan dan juga mimpi, lebih tidak.
Perempuan,
Aku sungguh mencintaimu, teramat sangat cinta. Cinta yang mungkin dalam batas yang tak pernah dirasakan oleh orang-orang yang pernah mencintai sebelumnya. Cinta yang membuat hari-hariku hidup selama enam tahun ini meskipun tak pernah memilikimu. Mungkin itu terdengar bagai sebuah klise, tapi inilah aku lelaki yang mencintai dalam bayang, selamanya. Kini engkau telah menemukan pilihan hidup yang kau pilih dan aku yakin dia adalah orang yang tepat dan lebih baik dariku, setidaknya ia berani mengungkapkan perasaannya padamu sedangkan aku tidak.
Perempuanku,
Bingkisan ini harus aku sampaikan kepdamu sebagai tanda harapan dan mimpi indah yang pernah kubangun. Dulu aku selalu membayangkan memberikannya langsung padamu sambil bersimpuh mengucapkan kata-kata lamaran yang layak untuk dikenang dalam sisa-sisa usia kita, memilikimu dalam suasana suci dan mencintaimu tanpa beban. Enam tahun mencintaimu dalam diam. Tapi sebentar lagi mungkin habis waktuku, namun tak pernah kusesali hari ketika aku melihatmu di Mushalla kala itu dengan senyum terindah yang pernah kulihat seumur hidup...
***
Selamanya kata-kata akan jadi abu,
Dari enam tahun pertemuan kita itu
Dua ribu matahari jatuh ke tanah,
Tiga ratus pekan tenggelam dalam hari yang mati..
Mengurai pedih cinta pada kekasih,
Menghayati arti Sejati dalam kesendirian..
Malam yang datang pelan-pelan,
Kemudiannya adalah pesona dalam kesunyian yang pucat..
Hari itu tetap kita kenang sebagai kehangatan suka-cita,
Namun begitulah kita harus menyerah pada hukum-hukum hari..
Kehidupan masa datang yang menjadi asing,
Mengantarkan kita pada kotak-kotak waktu..
Menjadikan sekat masa antara dulu, kini, dan esok..
Ooh.. andai kita punya mantra...
Mantra penangkal kutuk waktu yang hitam kelam,
Mantra penghapus kebencian pada yang sudah-sudah..
Mantra yang mendamaikan perasaan kita
Penawar dari segala penawar,
Hingga kita tak lagi berdoa bila berdiri dalam sunyi
Dan tak ciut melihat masa yang purba..
Selamanya akan tentram menunggu seluruh usia,
Menghitung ketidak-pastian dan bahagia..
Hanya mantra itu yang akan jadi penawar,
IKHLAS...
***
Nadia menghapus air matanya yang sejak tadi sudah mulai mengalir deras. Satu persatu surat itu dimasukkannya kembali kedalam boks yang masih tergeletak diatas lantai. Sekilas ia melihat sebuah cincin bermata satu dengan bagian tengahnya dihias ukiran berulir yang sangat indah dalam wadah berwarna merah dibagian bawah pinggir boks. Alunan biola Itzhak Perlman feat John Williams terdengar mendayu-dayu memainkan sonata Remembrances membuat hatinya semakin tersayat-sayat menangisi kisah lara lelaki tanpa nama dan perempuan tanpa nama pada malam itu....
***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar