Suatu kali masa mengerang,
Angin dalam pelukan mati,
Sedang semua kata lebur mencair
Sebelum sampai kepadamu,
Lantas dengan apa engkau akan ku sebut...?
Menghadapi kenyataan yang membunuh cinta,
Kau takkan mengerti akan lukaku,
Karena cinta telah sembunyikan pisaunya..
Membayangkan wajahmu adalah siksa
Yang tak bisa ku hindari,
Kesepian dan ketakutan adalah musim panjang
Yang melumpuhkan..
Apabila aku dalam kerinduan yang mengapi,
Pemberontakan hati membakar merah langit dan bumi,
Hancur lebur mengabu hatiku yang binasa..
Engkau menjadi barah luka yang tak bisa ku obati..
Berulang kali kuseru namamu,
Tapi hanya gaungnya yang meratap sunyi..
Kian lama suaraku kian gementar,
Akankah ini jadi masa-masa silam
Yang membekas dalam wajah sendu hari..?
Kuseru lagi
namamu..
Kuseru lagi
namamu..
Engkau…
Takkan mengerti akan lukaku,
Karena cinta
telah sembunyikan pisaunya…
Angin dalam pelukan mati,
Sedang semua kata lebur mencair
Sebelum sampai kepadamu,
Lantas dengan apa engkau akan ku sebut...?
Menghadapi kenyataan yang membunuh cinta,
Kau takkan mengerti akan lukaku,
Karena cinta telah sembunyikan pisaunya..
Membayangkan wajahmu adalah siksa
Yang tak bisa ku hindari,
Kesepian dan ketakutan adalah musim panjang
Yang melumpuhkan..
Apabila aku dalam kerinduan yang mengapi,
Pemberontakan hati membakar merah langit dan bumi,
Hancur lebur mengabu hatiku yang binasa..
Engkau menjadi barah luka yang tak bisa ku obati..
Berulang kali kuseru namamu,
Tapi hanya gaungnya yang meratap sunyi..
Kian lama suaraku kian gementar,
Akankah ini jadi masa-masa silam
Yang membekas dalam wajah sendu hari..?
Kuseru lagi
namamu..
Kuseru lagi
namamu..
Engkau…
Takkan mengerti akan lukaku,
Karena cinta
telah sembunyikan pisaunya…
Tidak ada komentar:
Posting Komentar