Aku berguru pada malam bagaimana caranya
membisikkan suara lebih lirih dari pada sepi
dan memilih sunyi tempat beradu..
Telah kusaksikan hitam yang memeluk gelap
serupa musafir yang sekarat di padang gurun
meronta-ronta melafalkan serapah..
maka sepertiga duka ini belum apa-apa...
Mereka mengatakan padaku;
"Jangan kau meminta benderang dalam lanskap siluet,
sesungguhnya hakekat siluet adalah samar.."
Lalu ku tadahkan lagi gerimis hujan di ujung senja ini,
begitu dingin membasahi daun-daun trembesi,
seakan memaknai kembali bait-bait sajak yang kau warnai
dengan tinta merah pekat darahmu..
Aah.... Betapa ajal tak mau menunggu..?!!
Dalam masa yang paling purba,
Terdengar lirih suaramu yang paling senyap
dalam nuansa yang menyimpan sejarah
waktu sederet rindu pada segaris luka yang belum selesai...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar