Berhubung Bulan Ramadhan sudah hampir dihadapan mata, mari sama-sama sejenak kita kembali merenung dan bertafakkur mudah-mudahan dengan tulisan ini yang sederhana ini dapat memberi manfaat.... ^_^
Dari Salman r.a., ia berkata : “Pada akhir bulan Sya’ban,
Rasulullah SAW berkhotbah pada kami. Sabdanya, ‘wahai manusia telah
dekat padamu bulan yang agung lagi penuh berkah. Bulan yang didalmnya
terdapat satu malam yang lebih baik dari seribu bulan, bulan yang
didalamnya Allah menjadikan puasa sebagai fardhu, dan bangun malam
sebagai sunnah. Barangsiapa mendekatkan diri dengan beramal sunnah
didalamnya, maka (pahalanya) seperti orang yang beramal fardhu pada
bulan lain. Barangsiapa beramal fardhu didalamnya, maka pahalanya
seperti orang beramal tujuh puluh amalan fardhu padabulan lain.
‘Inilah
bulan kesabaran dan pahala sabar adalah syurga. Inilah bulan rahmat,
bulan saat rezki seorang mukmin ditambah. Barangsiapa memberi makanan
untuk berbuka kepada orang-orang yang berpuasa, maka itu menjadi ampunan
bagi dosa-dosanya dan mendapatkan pahala yang sama tanpa mengurangi
pahala orang itu sedikitpun. ‘mereka berkata, ‘ya Rasulullah, tidak
setiap kami memiliki makanan untuk diberikan kepada orang yang berbuka
puasa. ‘beliau bersabda, ‘Allah memberi pahala kepada orang yang
memberi makanan berbuka, meskipun sebutir Kurma, seteguk air, atau
seteguk susu.’
Inilah bulan yang awalnya
penuh rahmat, tengahnya penuh ampunan, dan akhirnya adalah pembebasan
dari api neraka.’ Barangsiapa meringankan beban budak-budaknya pada
bulan itu, maka Allah akan mengampuninya dan membebaskannya dari api
neraka…..’ (H.R. Ibnu Khuzaimah, Bayhaqqi dan Ibnu Hibban)
Selama
ini kita (saya dan saudara-saudara sekalian) mungkin beranggapan bahwa
sebulan dalam setahun kita wajib berpuasa, selanjutnya sebelas bulan
kemudian terserah kita masing-masing, mau berpuasa sunnah atau tidak.
Dan sering kali kita terlupa bahwa adanya kaitan yang continue
antara puasa Ramadhan dengan hal-hal lainnya dalam hidup kita, semuanya
berakhir apabila Syawal tiba dan kita merayakan ‘Aidil fitri sisanya
hilang tanpa membekas sedikitpun pada diri kita.
Mari
kita sama-sama muhasabah diri, apa yang sebenarnya kita pahami tentang
Ramadhan selama ini? Apakah kita bertanding melawan hawa nafsu dan
syahwat selama satu bulan penuh, lalu kemudian “berpesta” pada
‘Aidil Fitri serta merayakan “kemenangan dan kebebasan” pada sebelas
bulan berikutnya setelah selesai Ramadhan? Apakah kita telah benar-benar
bertanding mengendalikan nafsu dan syahwat selama satu bulan penuh atau
baru hanya sekedar menahan lapar dan haus? Sesungguhnya sudahkah kita
“Puasa”?
Jika kita renungkan, mungkin banyak diantara
kita yang selama ini keliru memahami makna Ramadhan. Kita berfikir bahwa
kita sedang bertanding di bulan Ramadhan, padahal lawan bertanding kita
(Iblis/Setan) sedang dibelenggu. Sepintas lalu mungkin kita bisa merasa
menang karena telah menjalani puasa dan tarawih dengan penuh selama
Ramadhan , padahal belum tentu. Dan yang lebih menyedihkan lagi Selama
Ramadhan Masjid-mesjid berisi penuh oleh saudara-saudara kita, tapi
begitu ‘Aidil fitri tiba, Masjid-masjid kembali kosong karena banyak
yang diantara kita yang berpikir bahwa pertarungan telah usai, dan kita
sudah istirahat karena Ramadhan telah berakhir, akhirnya kita terjerumus
lagi kedalam maksiat, kita berlumuran dosa kembali.
Jika
kita perhatikan pada orang yang benar-benar Sholeh memang terlihat
peningkatan ibadah mahdah (shalat, puasa, baca Qur’an dll). Tetapi ibadah
dan jihad ghoiru mahdah malah sebalinya malah jadi memburuk. Ekonomi kita
semakin menurun, ini dapat kita lihat melalui inflasi yang menigkat
tajam setiap kali menjelang Ramadhan, selama, dan sesudah Ramadhan
padahal seharusnya konsumsi berkurang karena kita sedang berpuasa, dan
hakekat puasa itu adalah menahan hawa nafsu bukan sekedar menahan lapar
dan dahaga. Sehingga kadang tanpa sadar Kita berbelanja untuk makanan
berbuka dengan berlebih-lebihan, dan tak jarang banyak diantara kita
yang belanja “habis-habisan” di Mall-mall ketika akan menghadapi
Lebaran, padahal sesungguhnya kita sedang menjalani ibadah puasa ramadhan yang hikmahnya adalah untuk mengalahkan hawa nafsu kita, namun sebaliknya sekali lagi kita terjebak dengan kegembiraan kita sehingga tidak jarang kita melakukan pembaziran.
Saya jadi teringat sebuah Kuis “1 versus 100”,
dimana seorang kontestan berhadapan dengan 100 orang kontestan lainnya
dalam menjawab pertanyaan untuk bisa mendapatkan hadiah menjadi
pemenangnya. Kaitannya adalah harusnya kita menjadikan Ramadhan dengan
“1 versus 11” yaitu, 1 bulan kita mempersiapkan diri dengan
sungguh-sungguh untuk menghadapi 11 bulan yang berikutnya dengan
mati-matian agar predikat muttaqin itu benar-benar kita raih dan
dipertahankan, karena pada dasarnya sebulan Ramadhan itu adalah Riadhah,
latihan, persiapan, serta training kita untuk menghadapi 11 bulan yang
penuh dengan tantangan yang amat berat. Mudah-mudahan kita semua
termasuk hamba-hamba Allah yang deberikan predikat muttaqin oleh Allah. Amiiiin Allahumma amiin.
Robbi,
Maafkan daku yang belum lengkap rukun,
Mencoba menuliskan nasehat untuk muslim dan muslimat
Bukan maksudku meninggikan ubun-ubun,
Bukan pula maksudku membuat diri jadi tambun,
Robbi,
Aku bukan penulis puisi
Bukan pula penyair barzanzi
Tapi,
ketika ayat-ayat-Mu coba kupahami
Kurangkaikan tulisan ini,
Sekedar untuk mawas diri,
Buatku dan saudara-saudaraku yang sering terlupa diri
Makin jauhi fitrah Ilahi…